Wacana Be NewSKP


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Home | Sekilas | Foto | Wacana | Wisata | Agama | Humor | Gallery | Curhat | Sport | Buku Tamu

Friday, August 26, 2005

Bagaimana Melindungi Otak Anak VIII


Mengenal & Menangani Tiks pada Anak

Tiks otot adalah gerakan tubuh yang sekonyong-konyong, berulang-ulang tanpa tanpa tujuan, di mana otot-otot bergerak tanpa tujuan, tanpa sengaja, impulsif, dan terus menerus. Lazimnya, setelah kedipan mata, diikuti gerakan muka, leher, dan bahu. Tiks juga meliputi kerutan dahi, juluran lidah, batuk, sentakan kepala, mulut. Selain itu ada juga tiks verbal berupa suara yang diulang-ulang, kadang-kadang berupa pengulangan frase (misalnya "kau tahu").

Tiks biasanya lebih intens dan lebih sering terjadi dalam kondisi tertekan. Tiks tidak terjadi ketika tidur, dan lebih banyak diderita anak laki-laki daripada anak perempuan. Biasanya tiks dimulai pada usia 4-12 tahun, dan paling sering terjadi pada usis 7-9 tahun. Umumnya tiks tidak berlanjut hingga anak dewasa, kecuali tiks majemuk.

Anak yang mengalami tiks seringkali gelisah, peka, mudah terpengaruh keadaan, keras kepala, dan sangat tergantung pada orang lain.

Pemerikasaan medis akan membedakan tiks nervous dan tiks organik. Tiks organik yang timbul karena gangguan pada sistem saraf pusat (fisik), biasanya tidak teratur, sekilas, dan tidak stereotip. Sedangkan tiks nervous terjadi berulang kali, kadang-kadang ratusan kali sehari. Selain itu tiks nervous tidak terasa sakit dan tidak terjadi pengecilan otot (atrofi).

Penyebab terjadinya tiks

Ketegangan
Banyak hal dapat mencemaskan anak, terutama tekanan dari teman sebaya (misalnya kelompok teman yang kompetitif dan suka mengejek) dan sekolah. Anak sering merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebankan padanya. Rasa tidak mampu yang disertai rasa malu dan sadar diri ini dapat menimbulkan tiks. Berkedutnya (mengejangnya) otot merupakan reaksi fisik alamiah bagi ketegangan. Jika ketegangan berkepanjangan, otot akan terbiasa berkedut, walau tidak sedang tegang.

Tingkah laku orang tua
Anak yang menderita tiks , khususnya yang di bawah 6 tahun, biasanya mempunyai orang tua yang menderita tiks juga. Karakter orangtua yang terlalu pencemas, kaku dan keras, selain menjadi contoh bagi anak, juga mendorong timbulnya tiks karena mereka mengasuh anak dengan tekanan atau tuntutan yang tidak realistik. Beberapa orangtua tanpa sengaja memupuk kebiasaan tiks anak. Ketika kedutan otot terjadi secara alamiah, orangtua bereaksi berlebihan (menunjukkan simpati, perhatian, kegusaran, atau bahkan marah-marah misalnya), yang justru akan mempersering terjadinya tiks.

Reaksi terhadap trauma
Khususnya kehilangan orang yang berarti baginya. Berkedutnya otot, semula merupakan reaksi menghindar (misalnya memejamkan mata) yang normal selama atau setelah kejadian yang membingungkan anak untuk menyalurkan ketegangan ototnya. Namun seringkali gerakan ini menjadi kebiasaan untuk mengalihkan diri dari rasa tidak nyaman.

Konflik yang tidak terselesaikan
Tiks verbal (seperti mendengkur, mendehem nyaring) merupakan cara yang lebih aman daripada memaki-maki untuk menyatakan kemarahan. Ini secara tidak langsung juga akan mengganggu orang lain. Sentakan kepala dapat menjadi simbol untuk mengatakan "tidak" atas tuntutan-tuntutan yang menekan, atau pikiran-pikiran buruk yang ditabukan.

Sebab-sebab fisik
Tiks nervous berbeda dengan tiks yang disebabkan oleh kekejangan (spasmus), keracunan, penyakit saraf, atau athetosis (anggota badan atau bagian tubuh meliuk-liuk lambat tanpa dikehendaki), dan demam rematik. Untuk memastikan hal ini, diperlukan pemeriksaan medis. Masih diperdebatkan mengenai sebab-sebab sindrom Tourette. Sebagian ahli berpendapat tiks tersebut adalah kebiasaan, atau sesuatu yang dipelajari. Sementara ahli lainnya berpendapat tiks tersebut disebabkan faktor organik, yakni adanya gangguan pada sistem saraf pusat.

Pencegahan tiks

1. Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan dan memiliki rasa percaya diri.
Anak memerlukan figur yang dapat dipercayainya untuk membicarakan semua perasaan dan fantasinya tanpa ia harus merasa malu atau takut. Beberapa orangtua menolak pembicaraan yang dianggap "kotor" atau "aneh", padahal anak perlu membicarakannya sebagai fakta untuk mengatasi kebingungannya. Orang tua juga perlu melatih anak untuk menyatakan kemarahannya, tanpa menyakiti orang lain, terutama bila anak Anda cenderung pasif atau seing merasa tak berdaya.

2. Hindarkan ketegangan.
Cara mengasuh yang terlalu keras, terlalu kaku, atau terlalu menghukum. Kecemburuan terhadap saudara sekandung atau pertengkaran-pertengkaran dalam keluarga perlu dikurangi. Anda juga perlu memastikan bahwa anak cukup beristirahat setiap hari. Yang tidak kalah pentingnya adalah menenangkan dan menentramkan hatinya. Katakan kepada anak dan tunjukkan dengan bukti-bukti bahwa Anda mencintainya dan segala sesuatu akan dapat diatasi. Merasa sekelilingnya kacau dan merasa tidak berdaya, adalah sangat menakutkan bagi anak yang sensitif.

3. Jangan bereaksi berlebihan.
Lazimnya tiks akan menghilang (untuk sementara atau seterusnya), tanpa ditangani. Ketika anak baru menunjukkan gejala awal tiks, jangan mengomel ataupun membentak. Reaksi berlebihan terhadap tiks justru akan meningkatkan ketegangan anak, sehingga semakin membiasakan tiks tersebut. Kebingungan, kemarahan, dan perhatian berlebihan dari orang tua, membuat anak takut. Bila anak Anda mengalami kejadian traumatis, bersikap hangat dan mendukunglah. Jangan merisaukan tiks yang terjadi padanya, tetapi berikanlah rasa aman, dan bangunlah rasa percaya dirinya. Bila pada hari-hari berikutnya tiks masih berlanjut, barulah Anda tempuh langkah-langkah di bawah ini.

Penanganan untuk anak yang mengalami tiks

1. Beri imbalan dan abaikan.
Metode ini efektif terutama bila kebiasaan tiks baru saja dimulai. Caranya, abaikanlah tiksnya dan berilah anak imbalan utnuk waktu-waktu yang dilaluinya tanpa tiks. Untuk menghindarkan anak merasa malu dan marah, bicarakan tiks sebagai fakta (misalnya bahwa tiks tidak ada guna/tujuannya). Memang lebih bermanfaat bila Anda mendukung anak bersikap santai, dan tidak perlu menuntut anak melakukan sesuatu pun atas tiks-nya. Semakin memperhatikan dan semakin keras mencoba menghentikannya, justru semakin parah tiksnya.

2. Latihan mengendalikan kecemasan.
Latihlah anak mengatasi kecemasan, bagaimana bersikap santai dan tenang. Caranya adalah dengan menunjukkan bagaimana otot-otot betul-betul rileks. Tentu saja pada awalnya anak akan mengalami kesulitan. Mula-mula mintalah anak menegangkan otot lalu mengendurkannya perlahan-lahan, begitu seterusnya sampai ia merasa lemas dan semakin lama anak mampu mempertahankan keadaan ini. Gunakan stopwatch untuk mencatat peningkatan kemampuan ini (mula-mula mungkin 10 detik). Akan lebih baik bila dalam latihan ini anak diminta juga membayangkan sesuatu yang menyenangkannya untuk memudahkan timbulnya perasaan tenang. Selama ia rileks, paparkanlah situasi yang mencemaskannya itu (misalnya masalah berbicara di muka kelas). Lakukan pemaparan secara bertahap, sampai anak mampu mendengarkannya sambil tetap rileks.

3. Memonitor diri sendiri.
Selama beberapa hari anak dilatih menyadari dan mencatat frekuensi terjadinya tiks. Anda mungkin perlu menunjukkannya setiap kali tiks terjadi, semata-mata agar tak ada tiks yang terlewatkan, disadari anak. Hasilnya akan mengejutkan. Hanya dengan menghitungnya, seringkali tiks itu akan berkurang atau bahkan menghilang dengan sendirinya.

4. Melatih tiks.
Justru dengan sengaja melakukannya kemudian sengaja pula menghentikannya, tiks dapat dihilangkan. Anak-anak dapat melakukannya sampai lelah dan mengaanggap ini sebagai permainan. Sekurang-kurangnya ini dilakukan tiga kali seminggu, masing-masing selama setengah jam. Agar maksud latihan ini tercapai, anak harus diajak memahami bahwa tujuan latihan ini adalah menyadari gerakan yang semula tidak disadari, sehingga secara sadar pula dapat menghentikannya.

5. Melawan kebiasaan.
Anak dilatih melakukan respons yang menyaingi kebiasaan tiksnya. Respons saingan ini harus membuat anak lebih menyadari kebiasaannya sekaligus menghalangi kebiasaan tersebut (tiks tidak dapat terjadi bila respons saingan dilakukan), serta dapat dipertahankan untuk jangka waktu tertentu dan tidak mengganggu aktivitas normalnya. Misalnya untuk tiks menyentakkan kepala, atau dagu ditekankan dalam-dalam ke dada.

6. Latihan menyadari.
Kepada anak, nyatakanlah kebiasaan tiksnya, lalu mintalah ia untuk mengamati dirinya sendiri di depan cermin dan sengaja melakukan gerakan tiks tersebut. Perhatikan dan biarkan anak menyaksikan ketika tiks terjadi. Tujuannya adalah agar anak mengenali tanda-tanda awal yang mendahului tiksnya. Ingatkan ia dengan sisi-sisi buruk tiks: tidak enak dilihat, memalukan , dan tidak nyaman secara psikologis. Ajaklah anak membayangkan dirinya sendiri dalam berbagai situasi di mana ia terlibat di dalamnya tanpa melakukan tiks. Ajari pula anak Anda untuk meminta bantuan orang lain untuk mengingatkannya bila ia melakukan tiks. Mungkin anak akan malu pada awalnya, tetapi biasanya ini akan lebih membantu karena orang memperhatikannya. Kerabat dan teman-teman anak perlu membantunya dan memberi pujian atas usahanya serta betapa ia tampak lebih menyenangkan tanpa tiks. Mereka juga dapat mengingatkannya untuk melatih respons saingan.

7. Obat-obatan.
Ada yang berpendapat bahwa obat-obatan akan memperburuk rasa tak berdaya anak. Namun berbagai obat-obatan terbukti berhasil menghentikan tiks. Obat haloperidol berhasil menghentikan tiks majemuk seperti sindroma Tourette. Sedangkan butyrophenes, phenothiazine, methylphenidate, dan dextro-amphrtamine terbukti berhasil untuk tiks tidak majemuk. Tentunya penggunaan obat-obatan ini harus dengan pengawasan dokter.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Online dictionary at www.Answers.com
Buku Pintar Be NewSKP

Ensiklopedia Be NewSKP: