Wacana Be NewSKP


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Home | Sekilas | Foto | Wacana | Wisata | Agama | Humor | Gallery | Curhat | Sport | Buku Tamu

Saturday, August 13, 2005

KELADI TIKUS?

Keladi Tikus, Si Pembunuh Sel Kanker

Rasanya dunia kiamat. Begitulah perasaan seseorang bila divonis kanker. Bayangan operasi ataupun kemoterapi yang akan dijalani. Tapi sebelum itu terjadi, mengapa tidak mencoba ramuan keladi tikus? Hasil penelitian di Malaysia menunjukkan umbi itu dapat membunuh serta menghambat perkembangan sel kanker sekaligus menghilangkan efek buruk dari kemoterapi.

Tanaman keladi tikus atau Typhonium flagelliforme (lodd) BL merupakan tanaman ajaib. Ini tak lain karena khasiat yang terdapat di dalamnya. Bahkan keladi tikus yang di Malaysia juga dikenal dengan sebutan Rodent tuber ini pun sudah diteliti di Universiti Sains Malaysia. "Di Indonesia, keladi tikus merupakan tanaman liar, mirip gulma yang banyak ditemui di pinggir sawah. Biasanya para petani membuang tanaman tersebut," jelas Yellia Mangan, seorang herbalis. Namun setelah dilakukan penelitian di Malaysia, tanaman tersebut menjadi popular

Menurut Prof. K.L. Chan dari University Sains Malaysia (USM), ekstrak dari keladi tikus yang tingginya sekitar 25-30 cm ini akan lebih efektif bila dalam kondisi masih segar. Hasil penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa ekstrak dari akar juga efektif untuk kanker prostat. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lam Siew Hong di USM menyebutkan bahwa terjadi peningkatkan aktivitas antibakteri dalam darah ikan lele.

Dari Umbi Hingga Bunga
Sesuai dengan namanya, bentuk keladi tikus memang mirip keladi atau talas. Hanya saja daunnya lebih kecil. Itu sebabnya keladi tikus masuk dalam famili Araceae, jenis tanaman keladi-keladian Di Indonesia, sebutan untuk keladi tikus ini cukup banyak. Ada yang menyebutkan bira kecil, daun panta susu, kalamoyan, ileus, ki babi, trenggiling mentik, dan gofu sepa.

Dinamakan keladi tikus, karena bentuk bunganya mirip tikus. Tetapi ukuran keladi tikus yang tumbuh di Jawa Timur maupun di Jawa Barat cukup berbeda. Untuk yang tumbuh di Jatim, umbi yang dihasilkan lebih besar daripada yang di Jabar. Tetapi jenis keladi tikus yang dimaksud justru banyak terdapat di Pekalongan, Jawa Tengah.

Tapi itu tidak masalah. Karena yang lebih penting keladi tikus mengandung antineoplastik atau antikanker selain juga bisa berkhasiat sebagai antivirus. Efek farmakologi inilah yang menjadi obat utama untuk mengatasi kanker stadium lanjut. Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah keseluruhan dari tanaman tersebut. Mulai dari akar (umbi), batang, daun hingga bunga. Tentu saja, efek tersebut akan bertambah baik bila diberikan bersama-sama dengan tanaman lainnya. Seperti waru landak, rumput mutiara dan yang lainnya.

Beberapa penelitian yang dilakukan di Malaysia, keladi tikus dapat mengurangi keluhan rasa sakit ataupun terjadinya metastase atau penyebaran sel kanker. Tanaman itu sendiri seperti dikatakan Yellia bersifat rekonstruktif. "Sel-sel yang masih bagus akan dijaga. Sel yang mati ataupun rusak akan dibangun kembali," tukasnya. Banyak pasien Yellia yang kondisinya membaik setelah mengkonsumsi keladi tikus.

Banyak perubahan yang terjadi pada pasien kanker yang ditanganinya. Luka yang timbul pada pasien kanker payudara misalnya cepat mengering. Bahkan ada pasiennya yang keluhannya berkurang setelah beberapa saat mengkonsumsi keladi tikus. Menurutnya, pasien tersebut sudah mengalami kanker yang cukup parah. Karena sel kanker payudaranya sudah menjalar ke paru-paru bahkan sampai ke sumsum tulang belakang.

Bersifat toksik
Itu sebabnya si pasien sering mengalami sesak napas. Tetapi begitu mengkonsumsi keladi tikus, keluhannya berkurang. Memang diakui oleh Yellia, kerja dari keladi tikus ini sangat efektif. Terlebih lagi bila diberikan bersama-sama dengan 'timnya'. Namun yang perlu diingat, keladi tikus sangat tidak dianjurkan untuk tindakan pencegahan karena sifatnya yang toksik itu. Sebagai gantinya, untuk pencegahan lebih baik mengkonsumsi sambiloto ataupun temu mangga yang bisa menghambat perubahan sel yang kemungkinan bisa menjadi ganas.

Jenis kanker yang bisa dihambat oleh keladi tikus selain kanker payudara adalah kanker nasofaring, liver, kanker leher rahim, pankreas, prostat, paru-paru dan banyak lagi. Selain kanker, menurut beberapa penelitian juga disebutkan bahwa keladi tikus bisa digunakan untuk orang-orang yang mengalami kecanduan narkoba. Karena bisa menetralisir racun narkoba. "Tapi saya sendiri belum menggunakannya," tambah Yellia.

Bagi penderita miom atau kista dalam rahim, ramuan keladi tikus ini juga bisa digunakan. Keladi tikus yang diberikan secara teratur dan bertahap akan membuat miom mengecil. Hanya saja, Yellia mewanti-wanti untuk tidak menggunakannya bila tidak diperlukan. Selain itu, keladi tikus juga bisa mengatasi gangguan amandel. Caranya dengan membuat cairan keladi tikus untuk digunakan sebagai obat kumur.

Yang perlu diperhatikan oleh pasien kanker, dalam menjalankan pengobatan dengan keladi tikus ini, ada beberapa pantangan yang harus dikerjakan. "Seperti tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, rokok, alkohol, tape, nanas, nagka, durian, makanan pedas, bakso, gorengan, minuman bersoda, es, kecambah ataupun sawi hijau. Karena makanan tersebut bisa menetralisir efek dari obat keladi tikus itu sendiri," jelas Yellia.

Resep


Untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.
Ambil 3 batang keladi tikus lengkap, beratnya sekitar 50 gram. Cuci kemudian rendam selama 30 menit. Tumbuk halus lalu peras dengan kain. Air perasannya lalu diminum.

Untuk koreng
Keladi tikus juga bisa digunakan sebagai obat untuk koreng. Caranya, tumbuk umbi keladi tikus lalu tempelkan di tempat yang mengalami koreng. @ Diana Yunita Sari

Dilarang Bagi Wanita Hamil
Karena sifatnya yang sangat toksik atau beracun ini, ada beberapa hal yang menurut Yellia Mangan, harus diperhatikan
1. Keladi tikus lebih baik tidak dikonsumsi dalam bentuk mentah. Ada baiknya dalam bentuk yang sudah dikeringkan atau kapsul.
2. Pemberian keladi tikus untuk menghilangkan efek kemoterapi diberikan setelah 1 minggu kemoterapi.
3. Keladi tikus tidak dianjurkan untuk orang sehat ataupun sebagai tindakan pencegahan terhadap kanker. Lebih baik mengkonsumsi temu mangga untuk mencegah kanker payudara ataupun temu putih untuk kanker rahim.
4. Boleh digunakan bila terdapat tumor jinak. Itu pun tidak hanya keladi tikus saja yang diberikan, tapi juga bersama tanaman obat lainnya.
5. Wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi keladi tikus.
6. Pada orang yang sensitif, keladi tikus bisa menimbulkan rasa gatal ataupun mual. Bila itu yang terjadi, penambahan gula atau madu bisa menetralisir rasa tersebut. Hanya perlu diperhatikan bagi orang yang menderita diabetes.@





ARTIKEL LAIN

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "keladitikus" Typhonium lagel liforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter inihanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung.
"Tanaman inisangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.
Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan,Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998.
Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi. Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker.
"Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,"ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996."Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak Jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia, " kenang Patoppoi sambil tersenyum.
Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat DepartemenPertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya.Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
Selang beberapa hari, Dr Teomenghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benarRodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi.Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencaridi pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibusaya pun kembali normal," lanjut Boni.
Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. "Malah mereka ragu,apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yangseharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.
"Tetapikarena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.
Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teomelalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini diIndonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi.
Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang.
Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni.
Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH.Khamdani, Buduran Sidoarjo.
Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi,karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan DirekturJenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia.
Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia.Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker.
Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer CareIndonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu diJl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di Buduran,Sidoarjo.Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu.
"Dosis yang diperlukan tergantung penyakityang diderita," kata Boni.Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax keDr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya,dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia,"lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran." tambahnya.
Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit
Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.
Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai"ter-kun" atau dokter-dukun. "
Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien.Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang padaakhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leherrahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, danhepatitis.
Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi duniakesehatan.
Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan denganartikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial "CancerCare Indonesia" beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no. 5 Jakarta, telp :021-47867686, fax ; 4894754

1 Comments:

Post a Comment

<< Home

Online dictionary at www.Answers.com
Buku Pintar Be NewSKP

Ensiklopedia Be NewSKP: