Wacana Be NewSKP


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Home | Sekilas | Foto | Wacana | Wisata | Agama | Humor | Gallery | Curhat | Sport | Buku Tamu

Thursday, September 01, 2005

Makanan Selingan untuk Bayi


Makanan Selingan untuk Bayi
Wanita.com - Bolehkah bayi yang berumur 3 bulan dapat di beri makanan selingan / tambahan seperti selain biskuit juga jus karena jus apel dan alpukat sangat bagus untuk kulit bayi?
Buah - buahan pada dasarnya baik untuk kesehatan, sedangkan jenis buah yang dapat diberikan adalah tomat, jeruk, pisang, pepaya, alpukat dan apel. Dan perlu juga ibu ketahui bahwa hampir semua buah - buahan tersebut mempunya khasiat berupa multivitamin dan mineral dan juga serat yang ]baik untuk pencernaan.
Dengan demikian pemberiannya bisa berselang - seling setiap hari, tergantung mana lebih suka anak Ibu. Mengenai takarannya, Ibu dapat memberikan 1/2 bagian buah sampai dua buah. Perlu diingat juga bahwa pemberian makanan ini tidak dipaksakan. Mengenai kelebihan dari buah alpukat dan apel untuk kulit, ya memang ada. Tetapi buah - buahan yang lain juga punya kelebihan terhadap organ tubuh yang lain. Jadi, Ibu dapat memberikan secara berganti - ganti

Menunjang Proses Pertumbuhan Balita


Menunjang Proses Pertumbuhan Balita
Komposisi gizi ikan sangat bervariasi, dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu spesies (jenis), jenis kelamin, tingkat kematangan (umur), musim, siklus bertelur, dan letak geografis. Pada produk perikanan, protein merupakan komponen kedua terbesar setelah air, tetapi menempati posisi terpenting dalam peranannya sebagai zat gizi. Kandungan protein ikan sangat dipengaruhi oleh kadar air dan lemaknya. Namun, secara umum, dapat dikatakan bahwa ikan bersirip mengandung protein 16-24 persen. Pada ikan yang telah diolah, kandungan proteinnya dapat mencapai 35 persen. Proporsi protein konektif (kolagen) pada ikan jauh lebih rendah daripada daging ternak, yaitu berkisar antara 3-5 persen dari total protein. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan daging ikan lebih empuk. Kolagen ikan mulai menyusut pada temperatur sekitar 45°C, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kolagen mamalia (60-65°C). Ini merupakan faktor kedua yang menyebabkan daging ikan lebih mudah dicerna.
Secara umum. nilai cerna protein ikan sangat tinggi (lebih dari 90 persen). sehingga sangat mudah dicerna oleh bayi sekalipun. Ikan dapat digunakan sebagai sumber protein yang baik bagi bayi dan anak balita, yaitu untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangannya. Lemak ikan air tawar sangat sedikit mengandung kolestrol. Hal ini sangat menguntungkan bagi kesehatan karena kolestrol yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah dan penyakit jantung koroner. Selain kaya protein bermutu tinggi, ikan air tawar juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang berimbang. Vitamin yang terdapat pada ikan adalah larut lemak (vitamin A dan D), sedangkan mineral yang dominan adalah kalsium, fosfor, iodium, besi dan selenium.
Zat - zat gizi tersebut bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeberatif dan akibat kekurangan zat gizi mikro. bermanfaat untuk Dewasa ini, masyarakat Indonesia gizi ganda, yaitu sebagian penduduk mengalami kekurangan dan sebagai lagi kelebihan zat gizi, masalah kurang gizi erat berkaitan dengan penyakit dengan penyakit infeksi dan kemiskinan. Di lain pihak, oleh karena makin meningkatnya pendapatan, perubahan gaya hidup, dan pengaruh budaya global, masalah gizi lebih akan mengancam kehidupan penduduk golongan menengah ke atas serta kelompok usia lanjut. Ancaman tersebut berupa makin meningkatnya penyakit bukan infeksi, terutama dalam bentuk kegemukan, jantung, tekanan darah tinggi dan kanker. Dalam kontes masalah gizi ganda tersebut, peranan dalam penanggulangan masalah gizi kurang maupun lebih

Ibu Bekerja


Ibu Bekerja & Dampaknya bagi Perkembangan Anak

Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga...akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja.

Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika ibu memilih bekerja di luar rumah maka ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.

Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja.

Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.

Untuk itu maka ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.

Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumahpun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana. Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.

Bagaimana Melindungi Otak Anak XIII


Mengatasi Temper Tantrum pada Anak

Pernahkah Anda mengalami ketika Anda sekeluarga berjalan-jalan ke supermarket, anak Anda ingin dibelikan sesuatu atau dia memiliki suatu permintaan ? Ketika permintaannya itu tidak Anda turuti, tanpa Anda duga, anak Anda menangis sekeras-kerasnya bahkan sampai berguling-guling di lantai. Semua mata memandang kepada Anda, dan itu membuat Anda kehilangan muka. Anda menjadi jengkel, tapi si anak semakin menjadi-jadi tangisnya.

Itulah yang disebut Temper Tantrum, suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi ? Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.
Beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum adalah :

1. Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.

2. Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.

3. Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak meledak.

4. Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.

5. Yang paling sering terjadi adalah karena anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya. Jika Anda peduli dengan perkembangan anak Anda, periksa kembali sikap dan sifat-sifat Anda.
Hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya :

1. Yang paling utama adalah Anda beserta pasangan Anda harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Jika Anda marah, salurkanlah itu secara tepat. Anda harus ingat, bahwa anak merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitarnya. Jika tanpa Anda sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia melihat si Ayah memukul Ibunya, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya kelak.

2. Jika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, berilah kesempatan secara bijaksana kepadanya. Jangan terlalu mengekang, dan beri kepercayaan bahwa dia bisa bermain dan bergaul dengan baik.

3. Jika Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak saat dia mengamuk, kemukakan pendapat Anda secara tegas, tetapi lembut. Jangan membentaknya, apalagi mengata-katai anak dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Atur emosi Anda, karena dia tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan dia bukan musuh Anda. Abaikan tangisnya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepadanya mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Jelaskan dengan sabar sampai dia mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang dialami oleh si anak. Pastikan bahwa ia bisa mengerti maksud Anda dengan baik, karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Sekali lagi, atur emosi Anda. Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di supermarket. Tapi ingatlah akan perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda. Ajarlah anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya. Anda bisa mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Lewat permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat. Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda bermain curang. Mungkin Anda pikir ini hanya sekedar permainan. Tapi anak akan berpikir dan menerapkan pada dirinya, bahwa berlaku curang itu sah-sah saja. Kalau demikian, berarti Anda sudah menyiapkan seorang koruptor baru di negeri ini. Hah....!?

Bagaimana Melindungi Otak Anak XII


Bila Balita Merasa Bersalah

Mempunyai rasa bersalah ternyata tidak hanya monopoli orang dewasa. Balita Anda pun bisa merasakannya lho. Seperti contoh di bawah tiba-tiba, Dio, tiga tahun, menjadi murung. la diam di kamarnya dan tak mau makan malam. Kesedihan menggurat di wajahnya. Hingga keesokan harinya, buyung ini tampak tak bersemangat. Untung saja, Mira, ibunya.menangkap perubahan ini meskipun tidak tahu apa penyebabnya. Khawatir berkelanjutan, ia membawa Dio ke psikolog perkembangan untuk diobservasi. Hasilnya, sikap Dio muncul karena ia merasa Setiap kali adik bayinya menangis di tengah malam, dialah penyebabnya. Kasus yang menimpa Dio, menurut psikolog perkembangan anak, Dra. Ike Anggraika M.Psi, hampir dialami oleh urnumnya batita yang baru mempunyai adik. Terutama bila batita tidur bersama dengan si bayi dan kedua orangtuanya. "Tangisan bayi selain menganggu, seringkali membuat si kakak sedih. Sehingga menimbulkan empati, dan bila tidak dipaharnkan dengan benar, membuat si kakak merasa bersalah atas kondisi tersebut," ungkap dosen UI ini.

Pemahaman ini, menurut Ike, sejalan dengan perkembangan sikap tanggung jawab dan empati seorang anak. Pada usia batita, sikap ini mulai tumbuh meski punter kadang tidak ditempatkan dengan benar. Seperti kondisi yang dialami Dio. la ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan adik bayinya. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perasaan bersalah akan semakin muncul bila orangtua tidak memberikan pengertian yang benar. Terutama, bila orangtua tersirat menyalahkan si kaka. Secara tidak di sadari, Ibu seringkali melontarkan kalimat seperti, "Ssst.. diam dong, nanti adik nangis" atau "Kamu sih bergerak terus, jadi adik bangun deh." Ungkapan ini sering terlontar karena umumnya orangtua yang tidak sabar menghadapi kolik bayi atau tangisan bayi yang panjang. Bila berkelanjutan, keadaan ini akan berakibat buruk bagi perkembangan emosionalnya. Ada dua perilaku bertentangan yang mungkin muncul pada batita yang sering merasa bersalah. Pertama, ia menjadi murung, tidak bergairah, dan tidak mau berkomunikasi dengan aktif. Sedangkan yang kedua, anak menjadi sangat pemarah, tidak kooperatif, tidak mau diatur, dan cenderung memusuhi adik kecilnya. "Biasanya, sikap ini muncul dan rasa kesal dan tidak berdaya," ungkap Ike. Sebaiknya, orangtua segera mengetahui kondisi yang dihadapi batita supaya sikap negatif ini segera hilang.

Ike menyayangkan banyak orang tua yang tidak memahami perubahan sikap yang dialami batita kareria perasaan bersalah. ini. "Mereka sering terfokus pada masalah-masalah seperti.kesehatan yang menurun dan perlakuan buruk dari teman atau pengasuhnya. Ada beberapa tindakan yang sebaiknya segera dilakukan oleh orangtua untuk mengatasinya, pertama berikan pengertian setiap kali ia terbangun atau merasa terganggu bila adik kecilnya menangis, apalagi bila bayi itu sedang kolik. Berikanlah pengertian bahwa adik bayinya menangis bukan karena kehadiran atau perilaku si kaka. Anda boleh menjelaskannya dengan kalimat seperti, "Adik menangis karena perutnya sakit, ibu sedang berusaha mengobatinya." Sebaiknya, hindarilah perkataan yang bisa menyudutkan batita. Pada suasana yang tidak menyenangkan, ia cenderung lebih sensitif. Hal ini malah akan membuatnya menjadi lebih mudah merasa bersalah, terutama bila kalimat yang dilontarkan orangtua

bermakna menyalahkan si kakak batita. Sebaiknya, ajak si kakak untuk bersenandung atau menyanyikan lagu-lagu yang dapat didendangkannya untuk menghibur bayi yang sedang kolik. Biasanya, ini akan lebih membantu. Bila memungkinkan, biarkan kakak tidur di kamar lain dan mintalah ayah untuk menemaninya. Namun, sebelumnya tanyakan lebih dulu pada si batita apakah ia ingin pindah. Jangan memaksakan tindakan ini karena bisa membuat si kakak merasa disisihkan bila bantuan ini tidak bisa membuat batita merasa nyaman dan tenang. Untuk mengetahui apa penyebab si kecil merasa bersalah, diperlukan observasi yang mungkin tidak pendek. Selain itu, dukungan yang serius dari orangtua juga sangat penting. Tapi Ike menyarankan supaya orang tua mengupayakan kondisi yang tidak menimbulkan gangguan emosional ini. Selalu menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh kembang anak, membuat anak tidak mudah merasa bersalah. Banyak cara untuk melakukannya, yaitu menghindari pertengkaran di hadapan anak, melakukan perajakan kelahiran yang cukup antara anak yang satu dengan kelahiran anak yang lain dan memberikan dukungan emosi, limpahan kasih sayang serta perhatian yang cukup pada anak

Bagaimana Melindungi Otak Anak XI


Gangguan Autisme

Salah satu gangguan perkembangan anak adalah autisme. Jumlah penderita ini kian waktu kian meningkat. Bagaimana cara mengetahuinya kalau anak tercinta terkena autisme? Selain banyak dipicu dengan berbagai faktor, disini akan memberi sedikit gambaran tentang tanda awal autisme pada anak usia 0 - 5 tahun. Adapun ciri awal Autisme Anak berusia 0 - 5 tahun adalah sebagai berikut.:

Bayi lahir - Usia 6 bulan :
· Anak "terilalu tenang/baik".
· Mudah terangsang (irritable) banyak menangis terutama malam, dan susah ditenangkan.
· Jarang mengoceh.
· Jarang menunjukkan senyuman sosial.
· Jarang menyodorkan kedua lengan minta diangkat.
· Jarang menunjukkan kontak sosial.

Usia 6 Bulan - 2 Tahun :
· Tidak mau dipeluk atau menjadi tegang bila diangkat.
· Cuek.menghadapi kedua orangtuanya.
· Tidak mau ikut permainan sederhana seperti "cilukba" "bye bye".
· Tidak berupaya rnenggunakan kata-kata
· Tidak tertarik pada boneka atau binatang rnainan untuk bayi.
· Bisa sangat tertarik pada kedua tangannya sendiri.
· Mungkin menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah.

Usia 2 - 3 Tahun:
· Tidak tertarik (terbatas) atau menunjukkan perhatian khusus.
· Menganggap orang lain sebagai alat atau benda.
· Menunjukkan kontak mata yang terbatas.
· Mungkin mencium atau menjilat benda-benda.
· Menolak untuk dipeluk dan menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas.
· Realtif cuek menghadapi orangtua.

Usia 4 - 5 tahun :
· Bila akhirnya berbicara tak jarang echolalic atau mengulang-ulang kata yang diucapkan orang lain setelah beberapa lama.
· Menunjukkan suara yang aneh, biasanya nadanya tinggi dan monoton. * Sangat terganggu bila terjadi perubahan rutin pada kegiatan sehari - hari. * Kontak mata rnasih sangat terbatas, walaupun bisa terjadi perbaikan.
· Tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga berangsur-angsur berkurang.
· Melukai diri sendiri.Merangsang diri sendiri

Online dictionary at www.Answers.com
Buku Pintar Be NewSKP

Ensiklopedia Be NewSKP: