Wacana Be NewSKP


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Home | Sekilas | Foto | Wacana | Wisata | Agama | Humor | Gallery | Curhat | Sport | Buku Tamu

Thursday, September 01, 2005

Bagaimana Melindungi Otak Anak XII


Bila Balita Merasa Bersalah

Mempunyai rasa bersalah ternyata tidak hanya monopoli orang dewasa. Balita Anda pun bisa merasakannya lho. Seperti contoh di bawah tiba-tiba, Dio, tiga tahun, menjadi murung. la diam di kamarnya dan tak mau makan malam. Kesedihan menggurat di wajahnya. Hingga keesokan harinya, buyung ini tampak tak bersemangat. Untung saja, Mira, ibunya.menangkap perubahan ini meskipun tidak tahu apa penyebabnya. Khawatir berkelanjutan, ia membawa Dio ke psikolog perkembangan untuk diobservasi. Hasilnya, sikap Dio muncul karena ia merasa Setiap kali adik bayinya menangis di tengah malam, dialah penyebabnya. Kasus yang menimpa Dio, menurut psikolog perkembangan anak, Dra. Ike Anggraika M.Psi, hampir dialami oleh urnumnya batita yang baru mempunyai adik. Terutama bila batita tidur bersama dengan si bayi dan kedua orangtuanya. "Tangisan bayi selain menganggu, seringkali membuat si kakak sedih. Sehingga menimbulkan empati, dan bila tidak dipaharnkan dengan benar, membuat si kakak merasa bersalah atas kondisi tersebut," ungkap dosen UI ini.

Pemahaman ini, menurut Ike, sejalan dengan perkembangan sikap tanggung jawab dan empati seorang anak. Pada usia batita, sikap ini mulai tumbuh meski punter kadang tidak ditempatkan dengan benar. Seperti kondisi yang dialami Dio. la ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan adik bayinya. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perasaan bersalah akan semakin muncul bila orangtua tidak memberikan pengertian yang benar. Terutama, bila orangtua tersirat menyalahkan si kaka. Secara tidak di sadari, Ibu seringkali melontarkan kalimat seperti, "Ssst.. diam dong, nanti adik nangis" atau "Kamu sih bergerak terus, jadi adik bangun deh." Ungkapan ini sering terlontar karena umumnya orangtua yang tidak sabar menghadapi kolik bayi atau tangisan bayi yang panjang. Bila berkelanjutan, keadaan ini akan berakibat buruk bagi perkembangan emosionalnya. Ada dua perilaku bertentangan yang mungkin muncul pada batita yang sering merasa bersalah. Pertama, ia menjadi murung, tidak bergairah, dan tidak mau berkomunikasi dengan aktif. Sedangkan yang kedua, anak menjadi sangat pemarah, tidak kooperatif, tidak mau diatur, dan cenderung memusuhi adik kecilnya. "Biasanya, sikap ini muncul dan rasa kesal dan tidak berdaya," ungkap Ike. Sebaiknya, orangtua segera mengetahui kondisi yang dihadapi batita supaya sikap negatif ini segera hilang.

Ike menyayangkan banyak orang tua yang tidak memahami perubahan sikap yang dialami batita kareria perasaan bersalah. ini. "Mereka sering terfokus pada masalah-masalah seperti.kesehatan yang menurun dan perlakuan buruk dari teman atau pengasuhnya. Ada beberapa tindakan yang sebaiknya segera dilakukan oleh orangtua untuk mengatasinya, pertama berikan pengertian setiap kali ia terbangun atau merasa terganggu bila adik kecilnya menangis, apalagi bila bayi itu sedang kolik. Berikanlah pengertian bahwa adik bayinya menangis bukan karena kehadiran atau perilaku si kaka. Anda boleh menjelaskannya dengan kalimat seperti, "Adik menangis karena perutnya sakit, ibu sedang berusaha mengobatinya." Sebaiknya, hindarilah perkataan yang bisa menyudutkan batita. Pada suasana yang tidak menyenangkan, ia cenderung lebih sensitif. Hal ini malah akan membuatnya menjadi lebih mudah merasa bersalah, terutama bila kalimat yang dilontarkan orangtua

bermakna menyalahkan si kakak batita. Sebaiknya, ajak si kakak untuk bersenandung atau menyanyikan lagu-lagu yang dapat didendangkannya untuk menghibur bayi yang sedang kolik. Biasanya, ini akan lebih membantu. Bila memungkinkan, biarkan kakak tidur di kamar lain dan mintalah ayah untuk menemaninya. Namun, sebelumnya tanyakan lebih dulu pada si batita apakah ia ingin pindah. Jangan memaksakan tindakan ini karena bisa membuat si kakak merasa disisihkan bila bantuan ini tidak bisa membuat batita merasa nyaman dan tenang. Untuk mengetahui apa penyebab si kecil merasa bersalah, diperlukan observasi yang mungkin tidak pendek. Selain itu, dukungan yang serius dari orangtua juga sangat penting. Tapi Ike menyarankan supaya orang tua mengupayakan kondisi yang tidak menimbulkan gangguan emosional ini. Selalu menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh kembang anak, membuat anak tidak mudah merasa bersalah. Banyak cara untuk melakukannya, yaitu menghindari pertengkaran di hadapan anak, melakukan perajakan kelahiran yang cukup antara anak yang satu dengan kelahiran anak yang lain dan memberikan dukungan emosi, limpahan kasih sayang serta perhatian yang cukup pada anak

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Online dictionary at www.Answers.com
Buku Pintar Be NewSKP

Ensiklopedia Be NewSKP: